Selasa, 14 September 2010

Tugas Teori Lokasi

TEORI LOKASI DAN RUANG LINGKUPNYA

Teori lokasi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi. Atau dapat juga diartikan sebagai ilmu tentang alokasi secara geografis dari sumber daya yang langka, serta hubungannya atau pengaruhnya terhadap lokasi berbagai macam usaha atau kegiatan lain (activity). Secara umum, pemilihan lokasi oleh suatu unit aktivitas ditentukan oleh beberapa faktor seperti: bahan baku lokal (local input); permintaan lokal (local demand); bahan baku yang dapat dipindahkan (transferred input); dan permintaan luar (outside demand) (Hoover dan Giarratani, 2007).
Teori lokasi adalah suatu penjelasan teoritis yang dikaitkan dengan tata ruang dan kegiatan ekonomi. Hal ini selalu dikaitkan pula dengan alokasi geografis dari sumber daya yang terbatas yang pada gilirannya akan berpengaruh dan berdampak terhadap lokasi berbagai aktivitas, baik ekonomi maupun sosial.
Cakupan teori lokasi antara lain:




  • Lahan pertanian dan guna lahan kota, teori ini dikemukakan oleh Von Thunen dan teori turunannya.




  • Lokasi industri, melalui pendekatan deterministik Weberian dan pendekatan perilaku




  • Tempat pusat, oleh Christaller dan teori turunannya.




  • Alokasi lokasi, yang menitikberatkan pada bagaimana mengalokasikan fasilitas kota , interaksi keruangan serta hubungan antarlokasi dan kegiatan.
Pada awalnya teori lokasi dikembangkan Von Thunen tahun 1880 dan diperkenalkan secara utuh oleh Walter Isard tahun 1952. Namun, timbul masalah pokok ekonomi, yang disebabkan oleh tiga hal. Pertama, teori lokasi lebih cepat dikenal sebagai ilmu geografi, sehingga ahli ekonomi tidak peduli pada teori lokasi. Kedua, peralatan yang dipakai tidak biasa bagi ahli ekonomi. Yang ketiga, teori lokasi yang dikembangkan adalah tiga bentuk yang pada waktru itu tampak berdiri sendiri. Kemudian muncul teori tempat lokasi yang dikembangkan oleh Launhardt yang merupakan penerus Weber dan teori ini berkembang pesat. Horelling juga mengembangkan teori keseimbangan spasial yang merupakan sumbangan penting. Dan sejak Isard berhasil mengintegrasikan teori Thunen dan Launhardt/Weber, dan memproduksi alat yang dikenal dalam ekonomi, teori lokasi lebih diterima kalangan ekonom. Dan perkembangan selanjutnya, teori lokasi dan ketergantungan lokasi menyatu dalam bentuk mikro ekonomi spasial dan Von Thunen mencari jalan sendiri dengan landasan teori penggunaan tanah modern.

Secara umum, teori lokasi dibagi dua, yaitu:




  1. Teori Klasik
Menurut Reksohadiprojo dan Karseno (1985) Teori  sewa dan lokasi tanah, pada dasarnya merupakan bagian dari teori mikro tentang alokasi dan penentuan harga-harga faktor produksi. Sewa tanah adalah harga atas jasa sewa tanah.
David Ricardo, berpendapat bahwa penduduk akan tumbuh sedemikian rupa sehingga tanah-tanah yang tidak subur akan digunakan dalam proses produksi, dimana sudah tidak bermanfaat lagi bagi pemenuhan kebutuhan manusia yang berada pada batas minimum kehidupan. Sehingga, “sewa tanah akan sama dengan penerimaan dikurangi harga faktor produksi bukan tanah di dalam persaingan sempurna dan akan proporsional dengan selisih kesuburan tanah tersebut atas tanah yang paling rendah tingkat kesuburannya.
Berkenaan dengan kota, biasanya tingginya nilai tanah bukanlah tingkat kesuburan tanah tersebut, tetapi lebih sering dikaitkan dengan jarak atau letak tanah (Reksohadiprojo-Karseno, 1985:25).
VonThunen, Tanah yang letaknya paling jauh dari kota memiliki sewa sebesar 0 dan sewa tanah itu meningkat secara linear kearah pusat kota, dimana proporsional dengan biaya angkutan per ton/km. Semua tanah yang memiliki jarak yang sama terhadap kota memiliki harga sewa yang sama (Reksohadiprojo dan Karseno, 1985:25).




  1. Teori NeoKlasik
Menyebutkan bahwa suatu barang produksi dengan menggunakan beberapa macam faktor produksi, misalnya tanah, tenaga kerja dan modal. Baik input maupun hasil dianggap variabel. Substitusi diantara berbagai penggunaan faktor produksi dimungkinkan. Agar dicapai keuntungan maksimum, maka seorang produsen akan menggunakan faktor produksi sedemikian rupa sehingga diperoleh keuntungan maksimum.

Pembuat keputusan publik dan privat memutuskan di mana melokasikan sesuatu sering menghadapi masalah lokasi. Masalah lokasi menyangkut dua hal, yaitu:




    • Fungsional; siapa saja yang terlibat: individu, keluarga, RT/RW, perusahaan, industri, negara .




    • Areal; seberapa besar cakupan wilayahnya: ruangan, gedung, lingkungan, kota, metropolis, propinsi, negara, atau global.
Sebelum menentukan lokasi untuk kegiatan tertentu, ada hal yang harus dipikirkan dan dipertimbangankan, yaitu:




  • Letak lokasi




  • Nilai lokasi




  • Jenis kegiatan yang akan dilakukan




  • Kondisi fisik lokasi




  • Sistem sosial masyarakat sekitar



DAFTAR PUSTAKA

Djojodipuro, M. 1992. Teori Lokasi. Jakarta: LP-FEUI.
Lylod, Peter E. and Peter Dicken. 1990. Location in Space:Theoritical Approach to Economic Geography. New York: Harper and Row.
Prayudho. 2009. Teori Lokasi. Modul Kuliah MIE Unej. Diunduh dari http://prayudho.wordpress.com/2009/11/05/teori-lokasi/.
Dony. 2010.Teori Lokasi. 16 Juni. Diunduh dari http://dony.blog.uns.ac.id/2010/06/16/teori-lokasi/.



Minggu, 05 September 2010

artikel


KOTA PANGKALPINANG

Penulis: Drs. Akhmad Elvian Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Pangkalpinang
edisi: 16/Nov/2009 WIB
PETA BANGKA BELITUNG
Toponim adalah sebuah warisan yang harus tetap dilestarikan. Pelestarian terhadap warisan sejarah dan budaya dapat dimulai melalui tindakan preservatif dari seluruh komponen masyarakat
Pangkalpinang adalah salah satu kota bersejarah di Indonesia. Dengan mengetahui dan mempelajari jejak rekam peristiwa sejarah pen_ting yang terjadi di Kota Pangkalpinang diharapkan tumbuh pemahaman terhadap perkembangan Kota Pangkalpinang sehingga akan menumbuhkan kesadaran yang tinggi dari warga Pangkalpinang untuk merasa memiliki kotanya, memiliki kepedulian dan secara bersama cepat tanggap terhadap persoalan-persoalan pembangunan masyarakat dan pembangunan Kota Pangkalpinang. Tumbuhnya kesadaran warga Kota Pangkalpinang tentang sejarah keberadaan kotanya diharapkan dapat menjadi modal dasar bagi pembangunan, pengembangan dan pelestarian Kota Pangkalpinang.
Pembentukan Pangkalpinang dimulai sejak adanya perintah Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo (memerintah pada tahun 1758-1776) kepada Abang Pahang bergelar Tumenggung Dita Menggala dan kepada Depati serta batin-batin, baik Batin Pesirah maupun Batin Pengandang dan kepada para Krio yang ada di Pulau Bangka untuk mencari Pangkal atau Pengkal sebagai tempat kedudukan Demang dan Jenang yang akan bertugas untuk mengawasi parit-parit penambangan timah, mengawasi pekerja-pekerja yang disebut kuli tambang dari Cina, Siam, Kocin dan Melayu dan mengawasi distribusi timah dari parit-parit penambangan hingga sampai ke Kesultanan Palembang Darussalam. Diantara pangkal atau pengkal yang didirikan masa itu adalah pangkal Bendul, Bijat, Bunut, Rambat, Parit Sungai Buluh, Tempilang, Lajang, Sungailiat, Gagal, Pangkal Koba, Balar, Toboali dan Pangkalpinang yang kita kenal sekarang. Setelah pendirian pangkal atau pengkal lalu Sultan Palembang mengangkat dan mengirimkan Demang dan Jenang langsung dari Palembang untuk segera bertugas di masing-masing pangkal atau pengkal.
Struktur tata ruang Pangkalpinang pada awalnya hanyalah sebuah pangkal atau pengkal pengumpul timah dengan parit-parit timahnya dan pemukiman di sekitar Sungai Rangkui (Rangkui berarti bergerombol yaitu orang keluar masuk Pangkalpinang menggunakan perahu atau wangkang datang dan pergi berangkui-rangkui atau bergerombol gerombol) dan Sungai Pedindang yang membelah Kota Pangkalpinang. Bekas-bekas parit atau tambang timah tersebut masih dapat kita lihat pada bekas galian yang oleh orang Bangka disebut dengan Kolong. Di Pangkalpinang terdapat sekitar 19 kolong dan yang masih tersisa diantaranya adalah Kolong Kepuh (karena airnya kepuh), Kolong Ijau (karena airnya berwarna hijau), Kolong Bacang I dan Kolong Bacang II, Kolong Sampur, Kolong Bukit Intan, Kolong Tambang 12 (parit 12), Parit 24, Kolong Kelemen atau Kolong Bitun, Kolong Pedindang, Kolong Nangka I dan Kolong Nangka II, Kolong Teluk Bayur, Kolong Bintang, Kolong Pasar Ikan atau Gudang Padi, Kolong Kacang Pedang, Parit 6, Parit 42 (Si Luk), dan Parit Lalang. Pangkalpinang terus berubah dan berkembang dengan pesat seiring dengan perjalanan sejarah dan aktifitas kehidupan masyarakatnya.
 Di samping adanya orang-orang melayu, kedatangan pekerja-pekerja tambang timah dari Cina yang kemudian membentuk kongsi-kongsi pertambangan sangat mewarnai wajah Kota Pangkalpinang. Pola pemukiman Cina, tempat ibadah seperti kelenteng dan makam-makam tua orang Cina yang disebut pendem Cin. Jejak sejarah dan budaya tersebut telah menapak dalam berbagai bentuk bangunan fisik vernakuler Cina, dan berbagai warisan dan tradisi seperti bahasa Cina Bangka, kesenian dan kebiasaan-kebiasaan masyarakatnya. Belanda juga mengangkat pemimpin bagi orang-orang Cina di Pangkalpinang yaitu Majoor titulair der Chineezen Oen Kheng Boe (Wen Qing Wu) 1870-1925. Bentuk-bentuk tinggalan berupa bangunan-bangunan bersejarah di Kota Pangkalpinang berarsitektur vernakuler Cina ada juga yang bergaya Eropa dan Melayu. Realitas dinamika kehidupan masyarakat masa lalu di samping meninggalkan monumen hidup  berupa bangunan sejarah dan budaya juga telah meninggalkan jejak dalam bentuk nama tempat yang menggambarkan kondisi tempat tersebut dari sudut filosofi, sejarah budaya, tatanan sosial ataupun vegetasi dan hewan pada masa itu atau yang lebih populer dengan sebutan Toponim.
Penamaan lingkungan pemukiman Cina seperti penamaan kawasan Nai Si Fuk yang berarti tahi timah atau Tailing yang menumpuk, kawasan Yung Fo Hin (kampung bukit yang tinggi) yang sekarang disebut Semabung dan Parit Lalang yang berasal dari kata Parit yang ditumbuhi ilalang atau Lalang. Kawasan Bacang yang berasal dari nama buah Baciang (sejenis pohon mangga), kawasan Longinbuk yang berarti tempat perawatan dan pemeliharaan orang tua (jompo) dan kawasan Pasir Putih yang disebut Sung Sa Tie.
 Di samping itu ada juga penamaan berdasarkan vegetasi dan hewan seperti Kampung Betur, Kampung Asam, Bukit Nyato, Bukit Merapen, Kacangpedang, Pangkalbalam, Kampung Katak dan penamaan berdasarkan profesi penduduk seperti Kampung Besi (thiat phu), thiat artinya besi dan phu artinya toko, Jagal (tempat jagal hewan), Kampung Opas, Bukit Tani, Kejaksaan, Gang Mantri, selanjutnya penamaan berdasarkan asal penduduk yang menempati daerah tersebut seperti Bogorejo, Rejosari, Ampui dan Sumberejo. Penamaan lainnya berdasarkan kondisi tempat dari sudut sejarah, budaya dan tatanan sosial seperti Tebet (pintu air), Lembawai, Gabek (Goback), Kampung Dalam, Kampung Tengah, Kampung Tuatunu, Kampung Pelipur, Kawasan Bantemg (Hebe), Kawasan Pasar Mambo, Kawasan Koe Khian Lan dan Gudang Padi, Stasiun, Len Listrik, Bukit Baru, Bukit Besar, Bukit Intan dan lain sebagainya.
Kehadiran penguasa kolonial Belanda di Pangkalpinang dengan menjadikan Kota Pangkalpinang sebagai ibukota Keresidenan Bangka pada pada tanggal 3 September 1913 menyisakan bangunan-bangunan yang mencerminkan kekuasaan ke civic centre antara lain kediaman Residen (Residentshuis te Pangkalpinang op Bangka), Wilhelmina Park (Tamansari).
Dari toponim Kota Pangkalpinang dapat dilihat, bahwa Kota Pangkalpinang adalah sebuah kawasan yang pluralitas dan dalam perkembangannya dapat tumbuh secara harmonis seiring dengan dinamika perkembangan masyarakat dan pertumbuhan Kota Pangkalpinang sendiri. Melalui Toponim Pangkalpinang dapat menjadi smelt port society, terutama dalam menghadapi persinggungan antar budaya dan dengan budaya asing, serta bagaimana menata masyarakat agar dapat hidup secara serasi dan selaras dalam menghadapi berbagai perubahan yang begitu universal dan cepat terjadi.
Toponim adalah sebuah warisan yang harus tetap dilestarikan. Pelestarian terhadap warisan sejarah dan budaya dapat dimulai melalui tindakan preservatif dari seluruh komponen masyarakat Kota Pangkalpinang.
 Selanjutnya dapat dilakukan melalui tindakan progresif melalui upaya perlindungan, pengembangan dan pemanfaatannya bagi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. Bangsa yang besar lahir dari pemikiran yang besar, sedangkan pemikiran adalah produk budaya yang intangible. Untuk menjadi bangsa yang besar, maka kita harus membangun budaya bangsa termasuk melindungi warisan budayanya. Peristiwa dan pengalaman sejarah akan menjadi guru yang terbaik bagi tindakan manusia untuk tidak mengulangi berbagai kekeliruan dan kesalahan sehingga kita dapat bertindak lebih bijaksana dimasa yang akan datang.

Tugas Morfologi dan Arsitektur Kota

REVIEW PERKEMBANGAN MORFOLOGI
KOTA PANGKALPINANG, BANGKA BELITUNG

Suatu kota terbentuk dari masyarakat yang heterogen dan memiliki persamaan – persamaan, seperti daerah asal, agama ataupun pekerjaan yang kemudian membentuk suatu perkampungan, dilengkapi oleh fasilitas kota seperti ruang publik, pusat perekonomian, peribadatan, dan lain-lain. Suatu kota selalu mengalami perkembangan atau sering disebut morfologi kota.
 Morfologi kota merupakan teknik analisis yang dipergunakan untuk mempelajari pola-pola historis masa lalu dan masa kini dari struktur kota, bentuk, guna lahan dan pola-polanya. Berkembangnya suatu kawasan, berkaitan dengan struktur sosial, ekonomi dan budaya sehingga menyebabkan perkembangan dan perubahan fungsi ruang dan menimbulkan perubahan pada bentuk lingkungan sebagai wadah untuk melakukan kegiatan kehidupannya.
Bentukan lingkungan fisik kota sebagai "urban artifact", merupakan hasil produk budaya tertentu, di dalamnya terkandung makna atau konsepsi yang dapat digali keberhasilan dan kegagalan penanganan fisik pada masa lalu.
Kota Pangkalpinang merupakan suatu kota yang terbentuk sejak abad 17 dan telah memiliki pertambangan timah yang produktif dan telah diditribusikan ke berbagai daerah bahkan sampai keluar negeri sehingga Pangkalpinang berkembeng menjadi pusat perdagangan dan pertambangan. Kota Pangkalpinang awalnya terbentuk dari pangkal pengumpul timah dengan parit-parit timah disekitar Sungai Rangkui. Kampung kecil yang pada awal mula terbentuknya hanyalah berupa pangkalan (parit) pengumpul timah, daerahnya berawa-rawa dan dibelah oleh sungai sungai (diantaranya Sungai Rangkui, Sungai Pedindang) yang dapat dilalui wangkang atau kapal kapal kecil hingga ke muara, terus tumbuh dan berkembang menjadi kampung besar.
Pemukiman yang terbentuk awalnya pemukiman suku melayu, dan selanjutnya berkembang pemukiman  orang-orang Cina. Pola pemukiman orang-orang Cina ini mulai mewarnai struktur ruang Kota Pangkalpinang.
Sejarah Pangkalpinang secara mendasar tidak dapat dipisahkan dari pengaruh kekuasaan kekaisaran Tiongkok di Asia Timur dan perebutan, penguasaan atau eksploitasi terhadap biji timah oleh berbagai bangsa, sebagai bukti dari kedua hal tersebut dapat dilihat dari monumen hidup (Living Monument) diantaranya Kelenteng yang tersebar hampir diseluruh pelosok kota dalam ukuran besar dan kecil sesuai dengan fungsi dan penggunaannya, bentuk bangunan rumah tinggal berarsitektur vernakuler Cina berikut dengan penataan pemukiman yang dipisahkan dengan banyaknya gang gang sempit, tersebarnya makam makam tua orang Cina yang disebut Pendem.
Sejak kedatangan bangsa Belanda ke Pangkalpinang, Kota Pangkalpinang berubah menjadi kota pertahanan dan berbasis militer. Sejak menjadi ibukota Keresidenan Bangka dengan Residen pertama A.J.N. Engelenberg (tahun 1913-1918) Pangkalpinang mulai tumbuh dan berkembang menjadi kota yang ramai dengan segala aktifitasnya. Dan rumah yang dijadikan sebagai rumah Residen Belanda telah dibangun sebelum tahun 1913 walaupun masih berbentuk panggung terbuat dari dinding papan dan beratap sirap. Rumah ini disamping dijadikan sebagai rumah kediaman Residen juga dijadikan sebagai tempat kegiatan kemasyarakatan dan ini berlanjut hingga sekarang.
Disamping rumah Residen dibangun pula Kantor Keresidenan (kantor sementara Gubernur sekarang), Gedung pertemuan (Panti Wangka Sekarang), Kantor Polisi (Opas) dan sarana sarana lainnya seperti alun alun (Lapangan Merdeka), Jalan–jalan raya, Rumah rumah untuk Karyawan BTW dan dibangun pula taman Wilhemina (sekarang Tamansari), dengan arsitek Van Ben Benzehorn. Taman ini berfungsi sebagai tempat untuk olahraga, kesenian serta konservasi karena banyak ditanami dengan pepohonan langka yang rindang, sangat cocok untuk olahraga dan rekreasi keluarga dan berangin angin (Zich Onspannen). Sebagai kantor pusat penambangan timah terbesar di dunia, perekonomian masyarakat Pangkalpinang terasa sangat dinamis ditunjang lagi dengan letaknya yang strategis di lintas internasional. Pangkalpinang terus berkembang dibangunannya sarana dan prasarana kota seperti rumah sakit, puast peleburan biji timah, dan pembangunan sumber air baku bersih.
Secara umum arsitektur di Kepulauan Bangka Belitung berciri Arsitektur Melayu seperti yang ditemukan di daerah-daerah sepanjang pesisir Sumatera dan Malaka. Di daerah ini dikenal ada tiga tipe yaitu Arsitektur Melayu Awal, Melayu Bubung Panjang dan Melayu Bubung Limas. Rumah Melayu Awal berupa rumah panggung kayu dengan material seperti kayu, bambu, rotan, akar pohon, daun-daun atau alang-alang yang tumbuh dan mudah diperoleh di sekitar pemukiman. Bangunan Melayu Awal ini beratap tinggi di mana sebagian atapnya miring, memiliki beranda di muka, serta bukaan banyak yang berfungsi sebagai fentilasi. Rumah Melayu awal terdiri atas rumah ibu dan rumah dapur, yang berdiri di atas tiang rumah yang ditanam dalam tanah.
Kini Kota Pangkalpinang telah menjadi kota yang kaya akan kekayaan alam dan peninggalan sejarahnya. Perekonomian ditopang oleh sektor primer dan sektor sekunder. Sektor primer meliputi sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian. Sedangkan pada sektor sekunder yaitu sektor industri pengolahan. Disamping itu juga terdapat tempat wisata berupa pantai dengan pasirnya yang putih dan kini mulai dikenal oleh seluruh mayarakat Indonesia, bahkan dunia.